Minggu, 29 Maret 2015

Si Pemilik Rindu

Rindu. Apa yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran kalian ketika melihat sebuah buku yang berjudul Rindu? Kisah romantis sepasang muda-mudikah? Tapi nyatanya bukan kisah itu yang ingin ditonjolkan oleh Tere Liye dalam buku ini. Si “Rindu” ini tak menawarkan kisah romantis dengan kalimat-kalimat puitis khas Tere Liye. Buku ini berbeda, kisah ini bermula di tahun 1938. Saat Belanda masih menduduki Indonesia. Dengan latar kota Makassar.

Si “Rindu” menceritakan sebuah pengalaman. Pengalaman menaiki sebuah kapal laut. Lebih tepatnya tentang sebuah pertanyaan; pernahkah kalian membayangkan rasanya pergi ke tanah suci menaiki kapal laut? Menempuh perjalanan selama berbulan- bulan di atasnya, dan keseharian selama itu pulalah yang menjadi alur cerita buku ini.

Jangan bayangkan kapal ini menyesakkan, dan tak layak huni. Kapal ini berbeda dari kapal besar lainnya yang biasa mengangkut komoditi dan serdadu Belanda. Kapal ini merupakan kapal khusus, hanya tiba setahun sekali khusus mengangkut jemaah haji. Panjangnya 136 meter, dengan lebar 16 meter. Bahkan saat itu di kota Makasaar, tak ada bangunan yang mampu menandingi menara uap kapal bernama Blitar Holland ini.

Selama perjalanan, Blitar Holland tak ubahnya daratan. Anak-anak masih bisa sekolah dan mengaji bersama. Kalian juga boleh sebut apa saja yang dibutuhkan di kapal ini? Kantin dan masjid? Tentu ada. Laundry, dokterdan tukang jahit pun tersedia. Kabin penumpangnya didesain amat nyaman seperti rumah. Pintu kabin terbuat dari kayu, ada ruang tamu, kamar, dapur dilengkapi sofa, lemari, dan kipas angin.

Kala itu, menaiki kapal uap kargo merupakan suatu kemewahan. Hanya orang-orang kaya yang bisa menaiknya. Salah satunya adalah Daeng Adipati salah satu rombongan calon penumpang. Bersama istri, dua anak, dan satu pembantunya ia terdaftar sebagai calon penumpang.

Di atas kapal ini kalian akan melihat, gadis kecil berusia sembilan tahun bernama Anna, bungsu dari Daeng Andipati yang akan membuat kisah ini menjadi lebih hidup. Dari awal ia sudah menarik perhatian, wajahnya yang menggemaskan, sifat ingin tahunya, sikap “ngeyelnya” yang tak jarang membuat Elsa, sang Kakak dan ibu mereka dibuat kesal.

Ada banyak tokoh menarik di buku ini, selain keluarga Daeng Andipati kita akan berkenalan dengan penumpang khusus bernama Gurruta Ahmad Karaeng. Ia menjadi penumpang yang amat diperhatikan oleh serdadu Belanda. Bukan karena ia begitu disegani sebagai ulama besar Makasar, melainkan karena aktivitas dakwahnya yang dicurigai menebarkan paham perlawanan kepada Belanda.Sampai-sampai ia harus memiliki izin khusus dari Gubernur Jenderal De Jonge dari Batavia agar bisa ikut rombongan ke tanah suci.

Selanjutnya adalah Kapten Philips. Sungguh amat menarik mengenal Kapten Philips, keturunan Belanda berpaham egaliter. Menganggap semua orang setara, entah orang Belanda ataupun Indonesia Kapten Philips menghargai mereka tanpa pengecualian. Bahkan terlalu seringnya ia berlayar ke timur dan bergaul dengan penduduk timur, maka kadang kala caranya berbasa-basi lebih timur dibanding orang timur.

Dan tibalah mengenal penumpang yang beruntung menaiki Blitar Holland. Pria berkulit hitam ini bernama Ambo Uleng. Seorang pelaut yang bahkan tak masuk kriteria layak bekerja di kapal ini. Namun sosoknya yang misterius membuat Kapten Philip bersimpati padanya. Jadilah ia petugas dapur selama perjalanan itu. Kelak kalian akan tahu ketika membaca buku ini kenapa pria ini layak disebut pemuda yang bercahaya seperti rembulan.

Dari Sejarah Hingga Romantisme‘Senja’

Cerita si “Rindu” ini sungguh amat sederhana, tentang kegiatan sehari-hari, sarapan, makan siang, makan malam di kantin, sekolah tiap pukul setengah sembilan, dan mengaji setelah ba’da ashar.  Begitu berulang setiap hari. Membosankan kah? Sama sekali tidak, cerita ini mengalir begitu nikmat dengan kalimat-kalimat Tere Liye yang begitu menentramkan.

Ada banyak pengetahuan baru datang dari buku setebal 544 halaman ini. Tere Liye tak pernah melupakan detail-detail penting setiap kota itu. Ia membuat pembaca tahu bahwa dulu sekali tahun 1923, Kota Surabaya pernah memiliki trem listrik pertamanya.

Di Semarang, Tere Liye membuka sejarah kantor pusatperusahaan kereta api Nederlandsch Indishe Spoorweg Maatschappij (NISM) yang kini dikenal dengan nama Lawang Sewu. Bangunan yang memiliki lebih banyak pintu dan jendela dibandingkan lima puluh rumah dijadikan satu.

Dan mengenai Pelabuhan Batavia, jelas tak bisa disepelekan. Ada banyak sejarah kompeni yang menarik di kota yang kini dikenal sebagai Jakarta. Pusat kotanya dahulu terletak di Oud Batavia, sekarang orang mengenalnya sebagai Kota Tua. Di sana berdiri kantor Gubernur Jenderal de Jonge, tepatnya di Museum Fatahillah, yang dibangun serupa dengan Istana Dam di Amsterdam.

Kota Batavia saat itu memiliki sistem transportasi yang maju. Jalur kereta api telah terhubung ke luar kota; Cicurug, Sukabumi,Cianjur, Bandung, Tasikmalaya, bahkan hingga Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Stasiun Paling besar adalah Stasiun Beos (kini Stasiun Kota). Sama seperti Surabaya, Batavia juga memiliki trem listrik yang termasuk paling awaldi seluruh dunia, dibandingkan Eropa sekalipun.

Kalian ingin tahu di mana pusat belanja terkenal di Batavia? Maka kunjungilah Glodok. Kawasan pecinan terbesar di nusantara. Semua barang yang tak ada di pasar lain, ada di sini. Kalian boleh sebut apa saja, dan barang itu ada di pasar ini. tak mau hanya di Glodok, pergilah mengunjungi pasar Senen dan Tanah Abang. Kedua pasar ini pun tak kalah lengkapnya dengan Glodok.

Nah, yang satu ini juga amat perlu diketahui, bahwa pada masa itu bahkan hingga sekarang  Batavia telah terbiasa terendam air, karena kali Ciliwung meluap. Kanalnya tak bekerja dengan baik. drainasenya juga buruk. Saat banjir besar tiba, orang-orang bisa berenang di kawasan Gunung Sahari, Pasar Senen. 

Yang ini apa kalian tahu? Bagaimana Aceh dikenal sebagai Serambi Mekah? Bagaimana Sri Lanka akhirnya dijajah Inggris? Kalian akan menemukan jawabannya di dalam “Rindu”.

Buku ini memang mengajarkan sejarah  kepada pembaca, tapi tak melulu soal sejarah,Tere Liye mengajak kita memahami kisah yang amat lumrah dalam perjalanan panjang ini bahkan terjadi hingga saat ini. Setiap musim haji akan selalu ada jemaah berusia lanjut. Semua orang ingin naik haji ketika fisik mereka kuat, masih muda, tapi perjalanan itu tak murah. Banyak orang yang harus menabung bertahun-tahun dan baru cukup saat usia mereka telah sepuh. Seperti juga pasangan suami istri mbah Kakung dan mbah Putri Slamet. Mereka baru bisa berangkat haji saat usia mereka telah senja, menginjak delapan puluh tahun. Bagian ini merupakan cerita yang paling romantis di dalam buku ini. Harus diakui pendengaran kakek Slamet memang tak bagus lagi, penglihatannya juga sudah rabun. Tapi ia masih ingat betul kapan pertama kali ia bertemu dengan istrinya, melamarnya, menikah, tanggal lahir anak-anak mereka, waktu-waktu terindah yang mereka lalui, ia ingat semua detailnya.

Si Pemilik Pertanyaan

Yang satu ini, bukan bumbu cerita. Bukan soal alur perjalanan  yang melewati Pesisir Barat Pulau Sumatera, singgah di kota islam tertua di nusantara, dan berlalu menuju Samudera Hindia. Melalui 51 bagian kisahnya, kita akan tiba pada bagian paling penting, menemukan serpihan-serpihan inti ceritanya. Tentang pertanyaan-pertanyaan dalam perjalanan hidup seseorang.

Layaknya sebuah perjalanan, pertanyaan-pertanyaan ini tak pernah memilih siapa tokohnya. Ia menyeruak begitu saja. Terus mencari jawaban tanpa diminta, meski dipendam berhari-hari bahkan bertahun-tahun lamanya. Dikapal Blitar Holland  saat perjalanan haji di mulai, saat dimana perjalanan membutuhkan waktu berbulan-bulan, penuhperjuangan, penuh air mata keharuan. Mengorbankan waktu, harta, bahkan dalam banyak kasus, juga nyawa, kita akan menyaksikan bagaimana pertanyaan-pertanyaan itu berusaha mencari penjelasannya. Sayangnya, lazimnya sebuah pertanyaan, tidak semuanya memiliki jawaban. Terkadang, tidak ada jawaban, juga penjelasannya.

Pertanyaan pertama muncul dari seorang penumpang perempuan berusia empat puluh tahun, seorang guru mengaji anak-anak. Tentang masa lalu yang memilukan. Enlai menceritakan masa lalu istrinya sambil menahan rasa sakitdi hatinya. Ling-Ling, itulah nama yang diberikan saat istrinya dilahirkan. Enlai mengenal istrinya sejak usia mereka masih lima-enam tahun. Ayah Ling-Ling adalah penjudi kambuhan. Sementara saat itu, ibunya jatuh sakit. Hanya bisa terbaring di tempat tidur berbulan-bulan. Toko kelontong yang mereka punya pun harusdijual demi pengobatan sang ibu. Tapi sang ayah justru kambuh tabiat berjudinya.

Puncaknya, hari itu, Ling-Ling dibawa kabur. Enlai hanya bisa berdiri di depan rumah, menatap Ling-Ling yang diseret, dipukul, dibentak, dan disuruh diam. Ia dibawa lari menjauhi daerah pecinan Manado, tempat mereka tinggal. Sejak itu, Enlai tak tahu lagi kabar Ling-Ling. Kemana ia di bawa?

Pertanyaan kedua datang tak disangka-sangka dari seorang penumpangyang dianggap paling bahagia di kampung terapung itu. Apa yang membuatnya bertanya-tanya tentang kehidupan? Sementara ia memiliki keluarga yang lengkap, kehidupan yang berkucukupan, juga nama terpandang  di kota Makassar. Nyatanya  hatinya tetap tak bisa berbohong, ia tak bisa meluluhkan rasa benci yang telah tumbuh sejak usianya lima belas tahun. Selalu menyakitkan saat kita membenci sesuatu, apalagi jika itu ternyata membenciorang yang seharusnya kita sayangi.

Pertanyaan ketiga tentang kehilangan kisah sejati. Sebenarnya sejak si penannya menikah, hidupnya tak memiliki pertanyaan. Ia sudah memiliki semua jawaban, menghabiskan hari dengan pasti, bersyukur atas setiap takdir yang ia terima. Tapi, beberapa hari berlalu ia tak bisa mencegahnya. Pertanyaan kanapa? itu tiba-tiba muncul di kepalanya, memintapenjelasan.

Pertanyaan keempat masih tentang cinta, tentang cinta sejati yang terlanjur merekah di hati seorang pemuda yang memutuskan lari dari seluruh kisah cintanya. Padahal ia telah mengenal gadis itu di hari yang sama ketika bapaknya meninggal di laut.  Ia menyelamatkan gadis itu ketika kapal yang mereka naiki tenggelam tergerus badai. Saat usianya menginjak sembilan tahun. Enam hari mereka terkatung-katung di sebuah pulau, hingga perahu nelayan membawa mereka ke Pare-Pare.

Lagi-lagi takdir mempertemukan mereka, saat usia lelaki itu dua puluh tahun. Ia bekerja di kapal phinisi milik ayah si gadis. Hanya butuhwaktu lima detik sang gadis langsung mengenalinya. Malu-malu bertanya, memastikan. Empat tahun bekerja , hingga ia diangkat menjadi juru mudi. Saatitulah perasaan itu tumbuh. Meski mereka tak pernah bicara sepatah kata pun,juga tak berani saling tatap, perasaan itu tak bisa di pendam lagi. Sang gadis mengirimkan sepucuk surat kepadanya. Dia bercerita, orangtuanya sedang membicarakan perjodohan dengan seseorang dari kota Makassar. Seorang kerabat jauh dari kakeknya di Gowa. Ini adalah perjodohan yang diatur sejak lama. Tidak bisa dihindari. Gadis itu bertanya di akhir suratnya, “Apa yang harus dilakukan, Abangda?” Namun apa yang pria itu lakukan saat ini? Ia berlari sejauh mungkin dari kota kelahiran mereka, lari dari kisah cintanya.

Dan pertanyaan terakhir keluar dari orang yang pandai menjawab begitu banyak pertanyaan, tapi kali ini ia bahkan tidak berani menjawab pertanyaannya sendiri. Selama ini ia selalu menghindar, meyakini bahwa ada jalan keluar yang lebih baik tanpa harus kehilangan orang-orang yang disayangi. Tetapi malam itu, saat perompak Somalia mengambil alih kapal uap yang mereka naiki. Ia mendapat penjelasan dari seseorang yang pernah bertanya akan sebuah jawaban pada dirinya.

Dan Blitar Holland menjadi saksi atas pertanyaan besar yangtiba-tiba meluap. Menjadi tempat dimana lima pertanyaan itu mencari penjelasannya masing-masing. Lima kisah ini terangkum dalam sebuah perjalanan panjang bernama kerinduan. Besok lusa, kalian akan tahu setelah kampung terapung yang dijuluki Blitar Holland membawa mereka kembali ke tanah air. Bagaimana si pemilikpertanyaan melengkapi kerinduan itu, tepat satu tahun sebelum perang dunia kedua meletus. September 1939 hingga 1945.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar