Sabtu, 20 Februari 2016
Pemeran Antagonis
Peran antagonisku dimulai setelah membaca bunyi sms "bapak n ibu mau nengokin anak ragil gk?
Entah kebanyakan nonton sinetron atau drama, berkali-kali aku meyakinkan bapak untuk membiarkan Si Bontot KKN dengan nyaman tanpa diganggu dengan episode bernama "nengok KKN"
Bisa-bisanya dia meminta orangtuaku menempuh perjalanan jauh demi sampai ke desa yang di awali kata Rawa nan jauh di Tulang Bawang.
"Orangtuanya temennya ja berangkat dari jm 6 pagi baru nyampe jm 4 sore," aku mencoba menyadarkan bapak.
"Orang mau nengokin malah kita ngerepotin, mau minep di sana segala," sambil ngotot.
"Nanti dia kecewa kalo kita nggak jadi nengok," bapakku tetap bijak.
Akhirnya aku kalah. Pukul setengah 7 pagi, kami berangkat, melewati kebun karet, kebun sawit, jalan aspal mulus, jalanan berbatu, jalan tanah, kemudian berbatu lagi. Efeknya, Aku kesulitan untuk mendefinisikan apa perbedaan antara jalanan mulus dan berbatu, karena bagi kami yang terlalu lama terguncang di dalam kendaraan mulusnya jalan tak terlalu berarti
Saat bertemu Si Bontot sekitar jam 2 siang, ibuku memeluknya hangat, terharu lebih tepatnya. Aku menebak sepertinya ibuku berpikir alangkah jauh dan susahnya tempat KKN mu nak. Sementara aku segera menjitak kepala adikku mengingat perjalan melelahkan yang baru kami lalui.
Itu adalah pertemuan dramatis antara ibu dan anak. Karena nyatanya laju kami harus terhenti di tengah persawahan akibat jalanan becek dan berlubang. Jalan tengahnya adalah Si Bungsu harus menyusul kami di tengah sawah, menemui kami di sana.
Di perjalanan pulang aku masih berjajak pendapat.
"Harusnya tempat KKN-nya jauh nggak papa asal jalannya mudah dilalui," bapak berkomentar.
"Ya memang tempat KKN-nya bukan buat ditengokin," aku masih judes.
Kalo jalanan bagus seperti di kota mah buat apa KKN di sana, pikirku. Dulu masa KKN-ku di desa nan jauh di Lampung Barat, tak ada adegan orangtua menengok anak bahkan demi menghemat uang makan, kami ikut mencari sayuran di sawah.
Ini memang kali pertama buat Si Bungsu tinggal jauh dr rumah, dua bulan lamanya. Tapi ini juga akan jd pengalaman pertamamu mengenali lingkungan yg berbeda dan belajar bagaimana bersosialisasi di tempat baru. Maka dek... semoga bertumbuh semakin dewasa, berbaik-baikah di sana, dan lalui prosesmu.
Jumat, 29 Januari 2016
Eksotisnya Bena: Kampung Tertua di Atas Lembah
Tourism Western Australia - Eksotisnya Bena: Kampung Tertua di Atas Lembah
Tourism Western Australia - Secara geografis, Bena berada di bawah wilayah desa Tiworewu, Kecamatan Jerebu’u Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di sebelah Timur gunung Inerie dan berjarak sekitar 15,6 meter dari arah selatan Kota Bejawa.
Terdapat sembilan suku yang hidup bersama di Bena. Mereka adalah Dizi Kae, Wato, Deru Solomae, Deru Lalulewa, Bena, Ago, Ngada, Dizi Azi, dan Kopa.
Berdasarkan sejarah orang tua mereka, kampung ini tidak pernah berpindah ke tempat lain, dan inilah yang membawa para pengunjung penasaran akan keunikannya hingga wilayah ini dianggap sebagai kampung tertua di atas lembah yang masih bertahan dengan tradisi yang diwariskan sejak dulu.
Salah satu hal pertama yang menarik diketahui dari Bena adalah bentuk rumah adatnya. Ada 45 rumah adat yang berdiri mengelilingi halaman kampung yang penduduknya mayoritas beragama Katolik ini. Jumlah rumah ini tidak dapat bertambah berdasarkan warisan suku. Sementara pembangunan rumah lainnya adalah rumah pendukung dari rumah adat tersebut.
Bagi masyarakat Bena, rumah adalah pusat komunikasi keluarga, kerabat, dan tempat menerima tamu. Setiap rumah terdiri dari tiga bagian yaitu lewu sebagai tiang penunjang yang ditanam di tanah, kemudian sao merupakan bagian lantai dan dindingnya, dan Iru adalah bagian atap. Tak hanya itu saja, area internal rumah pun umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu teda moa, teda one, dan one sao. Teda moa digunakan sebagai area santai untuk menenun sambil menjaga anak-anak. Lalu teda one sebagai ruangan resmi untuk berdiskusi dan menerima tamu. Sementara one sao merupakan ruang utama yang memiliki banyak fungsi seperti dapur, tempat menyimpan sertifikat dan barang pusaka.
Menariknya bagi pengujung yang ingin memasuki rumah adat ini, tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Mama Emiliana, narasamber saya menjelaskan ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum memasuki rumah adat yaitu membeli ayam, beras, dan arak yang kemudian dibawa kepada tuan rumah untuk meminta izin kepada leluhur mereka.
Perjalanan saya belum berhenti, dari teda mao kita akan melihat area halaman kampung, dan Anda mungkin akan bertanya-tanya dengan dua jenis bangunan yang banyak berdiri di halaman itu. Bangunan tersebut dinamakan ngadhu dan bagha. Keduanya lebih dari sekedar simbol keberadaan suatu suku, ngadhu dan bagha menyiratkan hubungan leluhur dengan generasinya secara terus menerus.
Ngadhu merupakan representasi dari nenek moyang laki-laki dari satu suku, berbentuk sebuah tiang kayu memanjang beratapkan alang-alang dan ijuk dengan dua tangan memegang pedang dan tombak yang diukir dengan motif sawa yang menampilkan tiga bagian dari atas ke bawah, menunjukkan tiga level tingkat sosial masyarakat.
Sementara bagha merupakan representasi nenek moyang perempuan sebuah suku. Bentuknya berupa bangunan segi empat beratapkan alang-alang menyerupai rumah adat bagian dalam dalam ukuran lebih kecil.
Sebenarnya ada salah satu momen penting lainnya bagi masyarakat Bena yaitu upacara reba dilaksanakan tanggal 27 Desember. Upacara yang dilaksanakan setiap tahunnya ini merupakan simbol pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen kebun mereka. Hal istimewa lainnya adalah soal pernikahan adat yang hanya dilaksanakan di waktu reba, dimana laki-laki melamar perempuan. Sayangnya, karena saya berkunjung di bulan November saya belum bisa menyaksikan secara langsung kemeriahan upacara reba tersebut.
Tourism Western Australia - Secara geografis, Bena berada di bawah wilayah desa Tiworewu, Kecamatan Jerebu’u Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di sebelah Timur gunung Inerie dan berjarak sekitar 15,6 meter dari arah selatan Kota Bejawa.
Terdapat sembilan suku yang hidup bersama di Bena. Mereka adalah Dizi Kae, Wato, Deru Solomae, Deru Lalulewa, Bena, Ago, Ngada, Dizi Azi, dan Kopa.
Berdasarkan sejarah orang tua mereka, kampung ini tidak pernah berpindah ke tempat lain, dan inilah yang membawa para pengunjung penasaran akan keunikannya hingga wilayah ini dianggap sebagai kampung tertua di atas lembah yang masih bertahan dengan tradisi yang diwariskan sejak dulu.
Salah satu hal pertama yang menarik diketahui dari Bena adalah bentuk rumah adatnya. Ada 45 rumah adat yang berdiri mengelilingi halaman kampung yang penduduknya mayoritas beragama Katolik ini. Jumlah rumah ini tidak dapat bertambah berdasarkan warisan suku. Sementara pembangunan rumah lainnya adalah rumah pendukung dari rumah adat tersebut.
Bagi masyarakat Bena, rumah adalah pusat komunikasi keluarga, kerabat, dan tempat menerima tamu. Setiap rumah terdiri dari tiga bagian yaitu lewu sebagai tiang penunjang yang ditanam di tanah, kemudian sao merupakan bagian lantai dan dindingnya, dan Iru adalah bagian atap. Tak hanya itu saja, area internal rumah pun umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu teda moa, teda one, dan one sao. Teda moa digunakan sebagai area santai untuk menenun sambil menjaga anak-anak. Lalu teda one sebagai ruangan resmi untuk berdiskusi dan menerima tamu. Sementara one sao merupakan ruang utama yang memiliki banyak fungsi seperti dapur, tempat menyimpan sertifikat dan barang pusaka.
Menariknya bagi pengujung yang ingin memasuki rumah adat ini, tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Mama Emiliana, narasamber saya menjelaskan ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum memasuki rumah adat yaitu membeli ayam, beras, dan arak yang kemudian dibawa kepada tuan rumah untuk meminta izin kepada leluhur mereka.
Perjalanan saya belum berhenti, dari teda mao kita akan melihat area halaman kampung, dan Anda mungkin akan bertanya-tanya dengan dua jenis bangunan yang banyak berdiri di halaman itu. Bangunan tersebut dinamakan ngadhu dan bagha. Keduanya lebih dari sekedar simbol keberadaan suatu suku, ngadhu dan bagha menyiratkan hubungan leluhur dengan generasinya secara terus menerus.
Ngadhu merupakan representasi dari nenek moyang laki-laki dari satu suku, berbentuk sebuah tiang kayu memanjang beratapkan alang-alang dan ijuk dengan dua tangan memegang pedang dan tombak yang diukir dengan motif sawa yang menampilkan tiga bagian dari atas ke bawah, menunjukkan tiga level tingkat sosial masyarakat.
Sementara bagha merupakan representasi nenek moyang perempuan sebuah suku. Bentuknya berupa bangunan segi empat beratapkan alang-alang menyerupai rumah adat bagian dalam dalam ukuran lebih kecil.
Sebenarnya ada salah satu momen penting lainnya bagi masyarakat Bena yaitu upacara reba dilaksanakan tanggal 27 Desember. Upacara yang dilaksanakan setiap tahunnya ini merupakan simbol pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen kebun mereka. Hal istimewa lainnya adalah soal pernikahan adat yang hanya dilaksanakan di waktu reba, dimana laki-laki melamar perempuan. Sayangnya, karena saya berkunjung di bulan November saya belum bisa menyaksikan secara langsung kemeriahan upacara reba tersebut.
Minggu, 17 Januari 2016
Bolehkan Saya Takut?
Kamis, 14 Januari 2016 adalah peristiwa bersejarah bagi Indonesia. Pagi itu, ledakan pertama terdengar sekitar pukul sepuluh dari kawasan Thamrin-Sarinah Jakarta Pusat. Disusul ledakan lainnya dan baku tembak antara polisi dan serombongan orang yang dikatakan teroris berlabel ISIS. Setelah itu media sosial diramaikan oleh hastag #IndonesiaBerani #KamiTidakTakut, bahkan drama polisi ganteng dan meme lucu tak luput dari perhatian netizen.
Tentu saja saya bangga menanggapi gairah masyarakat untuk bangkit dan melupakan kesedihan. Tapi tiba-tiba saya terenyuh membaca sebuah postingan sang senior yang mengatakan bahwa dia takut. Apa? Sementara orang-orang mengatakan berani dan tidak takut kok beliau malah merasa takut? Saya melanjutkan membaca postingannya.
Maka setelah itu, saya akan mengatakan bahwa saya setuju untuk takut. Bahwa rasa takut adalah wajar, dan ini akan menjadi kabar baik ketika kita bisa membaca sebuah ketakutan untuk peka pada masalah yang terjadi, syukur-syukur bisa mencari solusi. Bukan sekedar berusaha melupakan, seolah-olah Indonesia baik-baik saja. Negara kita tidak menjadi baik-baik saja ketika kita tidak bisa peka dan mengerti ada banyak hal yang perlu kita tahu dari rasa takut itu.
Saya memang takut! Takut menjadi Si Oportunis karena nyatanya rasa kepekaan saya juga mulai melemah seiring dengan kenyamanan majunya teknologi hingga individualisme begitu terasa kencang menempel, menjadi malas memikirkan hal-hal di sekitar yang dirasa tak punya nilai signifikansi dalam hidup ini. Lalu, bolehkah saya merasa takut?
Kamis, 14 Januari 2016
Jembatan Severus Snape
Alan Rickman, aktor Inggris yang akan selalu terkenal sebagai Profesor Severus Snape dalam "Harry Potter". Kamis kemarin, 14 Januari 2016 meninggal dalam usianya ke 69 tahun karena penyakit kanker, dikatakan oleh perwakilan dari Independent Talent Groupnya.
Jujur gue nggak pernah mengikuti perkembangan karirnya sebagai aktor, tapi buat gue Snape adalah jembatan untuk mengingat kembali masa-masa tingkat XI-XII di SMA 1 Gadingrejo, Lampung. Demi membaca kisah Harry Potter seri 1 'Harry Potter and The Sorcerer's Stone - 5 'Harry Potter and The Order of Phoenix' gue dan beberapa teman satu kelas rela ngantri bergilir dari satu orang ke orang lainnya. "Berapa lama lagi? Sudah halaman berapa?" menjadi pertanyaan wajar karena nggak sabar menunggu. Harry Potter sungguh membuat kami saat itu berubah menjadi anak perpustakaan.
Wajar sih, karena buku seri 1-7 yang seharga 546.750 nggak mampu kami beli dengan alasan mahaaal untuk ukuran anak SMA. Bersyukurlah kami kepada salah satu bank swasta yang dengan baik hati membelikan seri buku Harry Potter untuk perpustakaan kami. Yeeeay!!!
Dan nggak hanya soal kenangan masa SMA, lebih penting dari itu nyatanya setelah gue membaca dan menonton filmnya, sosok Half-Blood Prince ini telah membantu gue mengenali sosok lain di dunia ini. Dari buku pertama Harry Potter sampai ke lima gue selalu gregetan dengan tingkah Snape yang selalu ingin menjagal Harry. "Ni orang ngeselin banget," pikir gue.
Sampai akhirnya gue menyadari di film yang terakhir ternyata tokoh berwajah dingin ini sebenernya adalah penolong Harry. Mungkin benar Prince membenci Harry pada awalnya karena James, namun rasa sayangnya terus tumbuh untuk melindungi Harry, sebagaimana rasa sayangnya kepada Lily Evans. Ah... Betapa merasa bersalahnya mengetahui kekeliruan pandangan gue selama ini.
Gue sadar bahwa ada banyak orang yang seringkali kita nilai secara tidak adil karena wajahnya yang nggak bersahabat, sifatnya yang dingin atau bahkan hanya sekali lihat, kita langsung memvonisnya sebagai orang jahat, lalu membuat radar untuk menjauhinya.
Hingga pada akhirnya Severus Snape membuat gue berpikir lagi "Kenapa kita harus terburu-buru menilai orang?"
Langganan:
Postingan (Atom)






