Jumat, 29 Januari 2016

Eksotisnya Bena: Kampung Tertua di Atas Lembah

Tourism Western Australia - Eksotisnya Bena: Kampung Tertua di Atas Lembah


Tourism Western Australia - Secara geografis, Bena berada di bawah wilayah desa Tiworewu, Kecamatan Jerebu’u Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di sebelah Timur gunung Inerie dan berjarak sekitar 15,6 meter dari arah selatan Kota Bejawa. 

Terdapat sembilan suku yang hidup bersama di Bena. Mereka adalah Dizi Kae, Wato, Deru Solomae, Deru Lalulewa, Bena, Ago, Ngada, Dizi Azi, dan Kopa. 

Berdasarkan sejarah orang tua mereka, kampung ini tidak pernah berpindah ke tempat lain, dan inilah yang membawa para pengunjung penasaran akan keunikannya hingga wilayah ini dianggap sebagai kampung tertua di atas lembah yang masih bertahan dengan tradisi yang diwariskan sejak dulu. 

Salah satu hal pertama yang menarik diketahui dari Bena adalah bentuk rumah adatnya. Ada 45 rumah adat yang berdiri mengelilingi halaman kampung yang penduduknya mayoritas beragama Katolik ini. Jumlah rumah ini tidak dapat bertambah berdasarkan warisan suku. Sementara pembangunan rumah lainnya adalah rumah pendukung dari rumah adat tersebut. 

Bagi masyarakat Bena, rumah adalah pusat komunikasi keluarga, kerabat, dan tempat menerima tamu. Setiap rumah terdiri dari tiga bagian yaitu lewu sebagai tiang penunjang yang ditanam di tanah, kemudian sao merupakan bagian lantai dan dindingnya, dan Iru adalah bagian atap. Tak hanya itu saja, area internal rumah pun umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu teda moa, teda one, dan one sao. Teda moa digunakan sebagai area santai untuk menenun sambil menjaga anak-anak. Lalu teda one sebagai ruangan resmi untuk berdiskusi dan menerima tamu. Sementara one sao merupakan ruang utama yang memiliki banyak fungsi seperti dapur, tempat menyimpan sertifikat dan barang pusaka. 

Menariknya bagi pengujung yang ingin memasuki rumah adat ini, tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Mama Emiliana, narasamber saya menjelaskan ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum memasuki rumah adat yaitu membeli ayam, beras, dan arak yang kemudian dibawa kepada tuan rumah untuk meminta izin kepada leluhur mereka. 

Perjalanan saya belum berhenti, dari teda mao kita akan melihat area halaman kampung, dan Anda mungkin akan bertanya-tanya dengan dua jenis bangunan yang banyak berdiri di halaman itu. Bangunan tersebut dinamakan ngadhu dan bagha. Keduanya lebih dari sekedar simbol keberadaan suatu suku, ngadhu dan bagha menyiratkan hubungan leluhur dengan generasinya secara terus menerus.


Ngadhu merupakan representasi dari nenek moyang laki-laki dari satu suku, berbentuk sebuah tiang kayu memanjang beratapkan alang-alang dan ijuk dengan dua tangan memegang pedang dan tombak yang diukir dengan motif sawa yang menampilkan tiga bagian dari atas ke bawah, menunjukkan tiga level tingkat sosial masyarakat. 


Sementara bagha merupakan representasi nenek moyang perempuan sebuah suku. Bentuknya berupa bangunan segi empat beratapkan alang-alang menyerupai rumah adat bagian dalam dalam ukuran lebih kecil. 

Sebenarnya ada salah satu momen penting lainnya bagi masyarakat Bena yaitu upacara reba dilaksanakan tanggal 27 Desember. Upacara yang dilaksanakan setiap tahunnya ini merupakan simbol pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen kebun mereka. Hal istimewa lainnya adalah soal pernikahan adat yang hanya dilaksanakan di waktu reba, dimana laki-laki melamar perempuan. Sayangnya, karena saya berkunjung di bulan November saya belum bisa menyaksikan secara langsung kemeriahan upacara reba tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar