Sabtu, 20 Februari 2016

Pemeran Antagonis


Peran antagonisku dimulai setelah membaca bunyi sms "bapak n ibu mau nengokin anak ragil gk?

Entah kebanyakan nonton sinetron atau drama, berkali-kali  aku meyakinkan bapak untuk membiarkan Si Bontot KKN dengan nyaman tanpa diganggu dengan episode bernama "nengok KKN"

Bisa-bisanya dia meminta orangtuaku menempuh perjalanan jauh demi sampai ke desa yang di awali kata Rawa nan jauh di Tulang Bawang.

"Orangtuanya temennya ja berangkat dari jm 6 pagi baru nyampe jm 4 sore," aku mencoba menyadarkan bapak.

"Orang mau nengokin malah kita ngerepotin, mau minep di sana segala," sambil ngotot.

"Nanti dia kecewa kalo kita nggak jadi nengok," bapakku tetap bijak.

Akhirnya aku kalah. Pukul setengah 7 pagi, kami berangkat, melewati kebun karet, kebun sawit, jalan aspal mulus, jalanan berbatu, jalan tanah, kemudian berbatu lagi. Efeknya, Aku kesulitan untuk mendefinisikan apa perbedaan antara jalanan mulus dan berbatu, karena bagi kami yang terlalu lama terguncang di dalam kendaraan mulusnya jalan tak terlalu berarti

Saat bertemu Si Bontot sekitar jam 2 siang, ibuku memeluknya hangat, terharu lebih tepatnya. Aku menebak sepertinya ibuku berpikir alangkah jauh dan susahnya tempat KKN mu nak.  Sementara aku segera menjitak kepala adikku mengingat perjalan melelahkan yang baru kami lalui.


Itu adalah pertemuan dramatis antara ibu dan anak. Karena nyatanya laju kami harus terhenti di tengah persawahan akibat jalanan becek dan berlubang. Jalan tengahnya adalah Si Bungsu harus menyusul kami di tengah sawah, menemui kami di sana.

Di perjalanan pulang aku masih berjajak pendapat.

"Harusnya tempat KKN-nya jauh nggak papa asal jalannya mudah dilalui," bapak berkomentar.

"Ya memang tempat KKN-nya bukan buat ditengokin," aku masih judes.

Kalo jalanan bagus seperti di kota mah buat apa KKN di sana, pikirku. Dulu masa KKN-ku di desa nan jauh di Lampung Barat, tak ada adegan orangtua menengok anak bahkan demi menghemat uang makan, kami ikut mencari sayuran di sawah.

Ini memang kali pertama buat Si Bungsu tinggal jauh dr rumah, dua bulan lamanya. Tapi ini juga akan jd pengalaman pertamamu mengenali lingkungan yg berbeda dan belajar bagaimana bersosialisasi di tempat baru. Maka dek... semoga bertumbuh semakin dewasa, berbaik-baikah di sana, dan lalui prosesmu.

Jumat, 29 Januari 2016

Eksotisnya Bena: Kampung Tertua di Atas Lembah

Tourism Western Australia - Eksotisnya Bena: Kampung Tertua di Atas Lembah


Tourism Western Australia - Secara geografis, Bena berada di bawah wilayah desa Tiworewu, Kecamatan Jerebu’u Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di sebelah Timur gunung Inerie dan berjarak sekitar 15,6 meter dari arah selatan Kota Bejawa. 

Terdapat sembilan suku yang hidup bersama di Bena. Mereka adalah Dizi Kae, Wato, Deru Solomae, Deru Lalulewa, Bena, Ago, Ngada, Dizi Azi, dan Kopa. 

Berdasarkan sejarah orang tua mereka, kampung ini tidak pernah berpindah ke tempat lain, dan inilah yang membawa para pengunjung penasaran akan keunikannya hingga wilayah ini dianggap sebagai kampung tertua di atas lembah yang masih bertahan dengan tradisi yang diwariskan sejak dulu. 

Salah satu hal pertama yang menarik diketahui dari Bena adalah bentuk rumah adatnya. Ada 45 rumah adat yang berdiri mengelilingi halaman kampung yang penduduknya mayoritas beragama Katolik ini. Jumlah rumah ini tidak dapat bertambah berdasarkan warisan suku. Sementara pembangunan rumah lainnya adalah rumah pendukung dari rumah adat tersebut. 

Bagi masyarakat Bena, rumah adalah pusat komunikasi keluarga, kerabat, dan tempat menerima tamu. Setiap rumah terdiri dari tiga bagian yaitu lewu sebagai tiang penunjang yang ditanam di tanah, kemudian sao merupakan bagian lantai dan dindingnya, dan Iru adalah bagian atap. Tak hanya itu saja, area internal rumah pun umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu teda moa, teda one, dan one sao. Teda moa digunakan sebagai area santai untuk menenun sambil menjaga anak-anak. Lalu teda one sebagai ruangan resmi untuk berdiskusi dan menerima tamu. Sementara one sao merupakan ruang utama yang memiliki banyak fungsi seperti dapur, tempat menyimpan sertifikat dan barang pusaka. 

Menariknya bagi pengujung yang ingin memasuki rumah adat ini, tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Mama Emiliana, narasamber saya menjelaskan ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum memasuki rumah adat yaitu membeli ayam, beras, dan arak yang kemudian dibawa kepada tuan rumah untuk meminta izin kepada leluhur mereka. 

Perjalanan saya belum berhenti, dari teda mao kita akan melihat area halaman kampung, dan Anda mungkin akan bertanya-tanya dengan dua jenis bangunan yang banyak berdiri di halaman itu. Bangunan tersebut dinamakan ngadhu dan bagha. Keduanya lebih dari sekedar simbol keberadaan suatu suku, ngadhu dan bagha menyiratkan hubungan leluhur dengan generasinya secara terus menerus.


Ngadhu merupakan representasi dari nenek moyang laki-laki dari satu suku, berbentuk sebuah tiang kayu memanjang beratapkan alang-alang dan ijuk dengan dua tangan memegang pedang dan tombak yang diukir dengan motif sawa yang menampilkan tiga bagian dari atas ke bawah, menunjukkan tiga level tingkat sosial masyarakat. 


Sementara bagha merupakan representasi nenek moyang perempuan sebuah suku. Bentuknya berupa bangunan segi empat beratapkan alang-alang menyerupai rumah adat bagian dalam dalam ukuran lebih kecil. 

Sebenarnya ada salah satu momen penting lainnya bagi masyarakat Bena yaitu upacara reba dilaksanakan tanggal 27 Desember. Upacara yang dilaksanakan setiap tahunnya ini merupakan simbol pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen kebun mereka. Hal istimewa lainnya adalah soal pernikahan adat yang hanya dilaksanakan di waktu reba, dimana laki-laki melamar perempuan. Sayangnya, karena saya berkunjung di bulan November saya belum bisa menyaksikan secara langsung kemeriahan upacara reba tersebut.

Minggu, 17 Januari 2016

Bolehkan Saya Takut?


Kamis, 14 Januari 2016 adalah peristiwa bersejarah bagi Indonesia. Pagi itu, ledakan pertama terdengar sekitar pukul sepuluh dari kawasan Thamrin-Sarinah Jakarta Pusat. Disusul ledakan lainnya dan baku tembak antara polisi dan serombongan orang yang dikatakan teroris berlabel ISIS. Setelah itu media sosial diramaikan oleh hastag #IndonesiaBerani #KamiTidakTakut, bahkan drama polisi ganteng dan meme lucu tak luput dari perhatian netizen.

Tentu saja saya bangga menanggapi gairah masyarakat untuk bangkit dan melupakan kesedihan. Tapi tiba-tiba saya terenyuh membaca sebuah postingan sang senior yang mengatakan bahwa dia takut. Apa? Sementara orang-orang mengatakan berani dan tidak takut kok beliau malah merasa takut? Saya melanjutkan membaca postingannya.

Maka setelah itu, saya akan mengatakan bahwa saya setuju untuk takut. Bahwa rasa takut adalah wajar, dan ini akan menjadi kabar baik ketika kita bisa membaca sebuah ketakutan untuk peka pada masalah yang terjadi, syukur-syukur bisa mencari solusi. Bukan sekedar berusaha melupakan, seolah-olah Indonesia baik-baik saja. Negara kita tidak menjadi baik-baik saja ketika kita tidak bisa peka dan mengerti ada banyak hal yang perlu kita tahu dari rasa takut itu.

Saya memang takut! Takut menjadi Si Oportunis karena nyatanya rasa kepekaan saya juga mulai melemah seiring dengan kenyamanan majunya teknologi hingga individualisme begitu terasa kencang menempel, menjadi malas memikirkan hal-hal di sekitar yang dirasa tak punya nilai signifikansi dalam hidup ini.  Lalu, bolehkah saya merasa takut?


Kamis, 14 Januari 2016


Jembatan Severus Snape

Alan Rickman, aktor Inggris yang akan selalu terkenal sebagai Profesor Severus Snape dalam "Harry Potter". Kamis kemarin, 14 Januari 2016 meninggal dalam usianya ke 69 tahun karena penyakit kanker, dikatakan oleh perwakilan dari Independent Talent Groupnya.

Jujur gue nggak pernah mengikuti perkembangan karirnya sebagai aktor, tapi buat gue Snape adalah jembatan untuk mengingat kembali masa-masa tingkat XI-XII di SMA 1 Gadingrejo, Lampung. Demi membaca kisah Harry Potter seri 1 'Harry Potter and The Sorcerer's Stone - 5 'Harry Potter and The Order of Phoenix' gue dan beberapa teman satu kelas rela ngantri bergilir dari satu orang ke orang lainnya. "Berapa lama lagi? Sudah halaman berapa?" menjadi pertanyaan wajar karena nggak sabar menunggu. Harry Potter sungguh membuat kami saat itu berubah menjadi anak perpustakaan.

Wajar sih, karena buku seri 1-7 yang seharga 546.750 nggak mampu kami beli dengan alasan mahaaal untuk ukuran anak SMA. Bersyukurlah kami kepada salah satu bank swasta yang dengan baik hati membelikan seri buku Harry Potter untuk perpustakaan kami. Yeeeay!!!

Dan nggak hanya soal kenangan masa SMA, lebih penting dari itu nyatanya setelah gue membaca dan menonton filmnya, sosok Half-Blood Prince ini telah membantu gue mengenali sosok lain di dunia ini. Dari buku pertama Harry Potter sampai ke lima gue selalu gregetan dengan tingkah Snape yang selalu ingin menjagal Harry. "Ni orang ngeselin banget," pikir gue.

Sampai akhirnya gue menyadari di film yang terakhir ternyata tokoh berwajah dingin ini sebenernya adalah penolong Harry. Mungkin benar Prince membenci Harry pada awalnya karena James, namun rasa sayangnya terus tumbuh untuk melindungi Harry, sebagaimana rasa sayangnya kepada Lily Evans. Ah... Betapa merasa bersalahnya mengetahui kekeliruan pandangan gue selama ini.

Gue sadar bahwa ada banyak orang yang seringkali kita nilai secara tidak adil karena wajahnya yang nggak bersahabat, sifatnya yang dingin atau bahkan hanya sekali lihat, kita langsung memvonisnya sebagai orang jahat, lalu membuat radar untuk menjauhinya.

Hingga pada akhirnya Severus Snape membuat gue berpikir lagi "Kenapa kita harus terburu-buru menilai orang?"

Minggu, 29 Maret 2015

Kami Bukan Suparman

Judul                            : Kami Bukan Suparman
Pengarang                   : Ridwan Hardiansyah
Penerbit                       : Indepth Publishing
Jumlah halaman           : 67 hlm + xvi
Tahun terbit                 : 2013

Tentang penulis: 

Ridwan Hardiansyah lahir di Jakarta, 12 Desember 1984, putra dari Bapak Haironi dan Ibu Eti Rohaeti. Ia menyelesaikan pendidikan formal di Tanggerang. Kemudian hijrah ke Bandarlampung dan meneruskan pendidikan sarjana di Universitas Lampung pada jurusan Ilmu Komunikasi FISIP sejak September 2003 hingga Desember 2008.  

Setelah selesai kuliah, sejak 2009 Ridwan  bekerja di SKHU Tribun Lampung hingga saat ini. Pria yang memiliki hobi menulis dan membaca ini tercatat  sebagai anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung. Selain aktif menulis buku, Ridwan pun aktif menyunting buku. Hingga saat ini ia telah menyunting 5 judul buku.

Sinopsis:

“Keadaan kami memang seperti ini. Kalau istri saya sedang hamil, saya kadang tidak tahu. Karena, ia memang sering seperti itu, terlambat menstruasi,” tutur Made Suwirte.

Yang dimaksud Made Suwirte adalah Made Hermawati (37), istrinya yang harus berjuang menyelematkan nyawanya akibat pendarahan, bahkan saat itu, Made Hermawati tak menyadari bahwa dirinya sedang mengandung. Ia biasanya baru tersadar  jika hamil, ketika kandungannya sudah beranjak tua.

Kisah ini bukan cerita fiksi. Cerita ini terdapat dalam sebuah buku yang mengisahkan kegetiran hidup di sebuah desa bernama Moro-Moro, dari pengalaman masyarakat yang memutuskan bertempat di sana. Buku ini mengangkat tema tentang keadilan yang saat ini banyak diperbincangkan bahkan diperjuangkan masyarakat Indonesia.
Permasalahan hidup yang tertulis dalam buku ini  berawal dari sebuah desa di ujung selatan Pulau Sumatera di Provinsi Lampung, tepatnya di Kabupaten Mesuji  berdiri sebuah kawasan register 45 dikenal dengan nama Moro-Moro, wilayah yang rawan konflik agraria antara masyarakat Moro-Moro dan PT Silva Inhutani Lampung. Konflik ini berawal dari krisis moneter  yang terjadi di Indonesia pada akhir dekade 1990-an, ketika perusahaan mengalami goncangan keuangan termasuk perusahaan di bidang kehutanan . Walhasil perusahaan pun menelantarkan tanah yang menjadi garapan mereka. Hal ini turut dialami oleh PT Silva Inhutani Lampung. Tanah 43.100 hektare tak bisa digarap seluruhnya karena perusahaan harus memperlambat akrivitas bisnisnya karena alasan keuangan. Beberapa hektare lahan dibiarkan kosong dan menjadi lahan tidur.

Tahun 1998 setelah runtuhnya rezim orde baru, masyarakat mulai berani menggarap tanah-tanah terlantar itu. Masyarakat mulai menggarap lahan tidur tersebut dan membangun rumah semi permanen. Masyarakat sepakat menamai lahan yang mereka garap dengan nama Moro-Moro, berasal dari bahasa Jawa yang artinya datang. Sebagian besar masyarakatnya memang bersuku Jawa, meski ada beberapa suku lain yang turut tinggal di sana.

Awalnya, masyarakat tak mengetahui jika tanah yang mereka diami adalah milik PT Silva Inhutani Lampung. Tahun 2002 mereka baru mengetahui fakta tersebut. Keputusan masyarakat mendiami tanah tersebut tersebut pun sudah mendapatkan izin Bupati Tulangbawang Santori Hasan, meski hanya izin lisan untuk meneruskan bercocok tanam. Ketika itu Moro-Moro masih masuk ke dalam wilayah Tulang Bwang, kini setelah adanya pemekaran Moro-Moro masuk wilayah Mesuji.

Namun izin lisan ternyata tak cukup, pemerintah dan erusahaa menganggap keberadaan masyarakat di kawasan tersebut ilegal, dengan alasan kawasan register merupakan hutan produksi yang tidak boleh ditinggali. Pemerintah dan perusahaan sepakat masyarakat yang mengghuni wilayah Moro-Moro adalah perambah. Imbasnya masyarakat Moro-Moro tidak diakui kewarganegarannya. Tidak mendapatkan jaminan dan perlindungan hak-hak seperti pendidikan, keamanan dan kesehatan. Pemerintah pun berusaha mengeluarkan masyarakat Moro-Moro dari kawasan register 45. Upaya tersebut pun selalu gagal. Masyarakat berharap ada solusi lain yang lebih adil. Yang jelas terjadi adalah anak-anak Moro–Moro terancam menjadi bodoh karena pemerintah tak meyediakan fasilitas pendidikan. Tak sampai disitu, kesulitan lainnya adalah pemerintah menolak mengurus administratif kependudukan masyarakat Moro-Moro. Seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), kartu keluarga, dan akta kelahiran. Meski diabaikan, masyarakat Moro-Moro tetap menjalankan kehidupannya.

Membaca buku ini, saya membayangkan sebuah drama di sebuah negeri yang jauh entah dimana. Rasanya sulit percaya di zaman demokrasi begitu dielu-elukan ternyata ada masyarakat dengan kesulitan hidup di wilayah Moro-Moro. Kesulitan, yang diciptakan oleh pemerintah. Apalagi alasannya kalau bukan membuat masyarakatnya merasa jera. Yang membuat saya takjub, Ridwan dengan cermat menceritakan kesederhanaan mereka untuk tetap berjuang menjalani hidup dengan mandiri. Namun, benar predikat yang diberikan  oleh Ridwan, sesuai dengan judul di cover buku ini. Sekuat apapun mereka, mereka tetap bukan superman. Yah, judul yang sesuai ‘Kami Bukan Superman” karena mereka bukan hidup di negara antah berantah tetapi mereka hidup di negara kesatuan Republik Indonesia, sudah sewajarnyalah pemerintah ikut andil mengurusi permasalahan mereka.

Kesehatan memang bukan perhatian utama masyarakat Moro-Moro. Masyarakat pun terancam rentan terhadap penyakit karena fasilitas kesehatan tak ada. Ridwan dengan gamblang mengisahkan apa yang dialami masyarakat Moro-Moro dengan menghadirkan kisah dari tokoh Made Hermawati dan Bili Chandra.

Kisah mengenai kesehatan masyarakat ini diceritakan pada bab satu, cerita di bawah langit Moro-Moro. Cerita ini merupakan bagian yang paling menyetuh dari kelima bab yang ditulis Ridwan. Ia mengisahkan bahwa untuk menyelamatkan Made Hermawati bukan perkara mudah, Made Suwirte harus meminjam motor milik tetangganya untuk menuju rumah seorang mantri. Dibantu Made Satre yang mengendarai motor, Made Suwirte menahan tubuh istrinya. Rupanya sang mantri tak ada di rumah. Made Suwirte bergegas memacu motornya, menuju puskesmas terdekat. Lagi-lagi mereka kecewa, puskesmas tersebut tutup. Di tengah kondisi Made Hermawati yang makin melemah, ia hampir berputus asa. Made Hermawati mengajak pulang. Ia pasrah dengan suratan nasib yang harus ia terima.
Namun Made Satre bersikeras ingin menolong, mereka sepakat melanjutkan perjalanan ke  rumah seorang mantri lain. Made Hermawati pun diperiksa. Sayang sang Mantri tak dapat berbuat banyak karena kondisi Made Hermawati yang sangat lemah. Ia menganjurkan agar Made Hermawati dibawa ke tempat praktik bidan di Unit II Tulangbawang.

Kembali sepeda motor menerjang malam, tiga puluh menit kemudian sampai mereka di tempat praktik bidan Tuti. Made Hermawati pun diberitahu bahwa dirinya hamil, kondisi yang dialaminya saat ini akibat ia mengalami keguguran. Hanya tujuh jam Made Hermawati sempat dirawat, sang suami terpaksa membawanya pulang karena tak ada biaya. Semakin lama dirawat, biaya akan semakin membengkak, untuk biaya penanganan istrinya pun ia harus meminjam uang sekitar satu juta kepada tetangganya.

Tak hanya tokoh Made Hermawati, Ridwan dengan piawai menghadirkan tokoh Sasomo (35), dan Astuti (30) mungkin orang yang merasa paling bahagia melihat anak kedua mereka Bili Candra lahir degan selamat dan sehat. Bahkan ia amat bersemangat meminum air susu ibunya. Namun, suasana berubah menjelang malam di hari kelahirannya, Bili kecil mulai menangis tak henti, badanya panas.

Di tengah kepanikan, Sasomo dan Astuti membawa Bili ke klinik bersalin Mutiara Bunda di Unit II Tulangbawang. Karena alat yang kurang memadai, Bili un dirujuk ke rumah sakit Mutiara Putri Bandar Lampung. Bersama ambulans Bili diantar ke sana. Hasil diagnosa menyatakan Bili mengalami infeksi berat akibat peritonitis atau radang rongga perut, usus halus Bili buntu, hal itu mengakibatkan kotoran masuk ke rongga perut. Untuk menanganinya Bili harus dioperasi, sebenarnya kasus Bili merupakan kelaianan sejak lahir, dan biasanya bisa dideteksi ketika sang ibu masih mengandung. Bili dirawat hingga 20 hari, saat mninggalkan rumah sakit, ususnya belum tersambung. Biaya rumah sakit pun membengkak, hingga 55 juta. Sasomo bingung, beruntung masyarakat Moro-Moro berinisiatif membantu dengan mengadakan penggalangan dana. 15 mei 2011 Bili di bawa ke rumahnya, itu pun masih meningalkan hutang 3,9 juta kepada pihak rumah sakit.

Beberapa organisasi sosial menjamin pelunasan hutang keluarga Sasomo. Kondisi Bili berangsur-angsur pulih, namun tak lama tanggal 17 Juni 2011 Bili enggan meminum ASI. Bili mulai memuntahkan cairan berwarna kuning seperti kotoran yang dikeluarkan melalui lubang tinja buatan di perutnya. Sasomo pun berniat membawa putranya ke RS Abdul Muluk, rumah sakit pemerintah di Bandar Lampung. 20 Juni, Sasomo meninggalkan rumah, dan membawa Bili ke rumah orangtuanya di Unit VIII Tulangbawang. Esok paginya baru ia akan membawa Bili ke RS. Apa mau dikata, 21 Juni 2011 pukul 03.00 Bili tidak bernafas lagi.  

Setelah cerita Bili Candra berakhir, penulis menggiring pembaca untuk mengetahui fakta bahwa upaya pemerintah mancapai pembangunan milenium yang digagas September tahun 2000 oleh 192 negara anggota Pererikataan Bangsa-Bangsa tak mengubah kehidupan masyarakat Moro-Moro. Nyatanya, program kesehatan ibu, bayi baru lahir, dan anak Balita (KIBBLA) untuk mencapai target pembangunan milenium terabaikan.

Pada bab dua dengan judul selusur tanah harapan, Ridwan tak lupa menceritakan keseharian masyarakat Moro-Moro yang mayoritas menanam singkong, padi lahan kering, karet serta memelihara hewan. Beberapa lainnya bekerja sebagai buruh penyadap karet, pembersih, rumput, atau pekerjaan kasar lain di perusahaan perkebunan yang terletak tak jauh dari wilayah Moro-Moro. Setiap keluarga yang tinggal di Moro-Moro mendapat lahan seluas 2,25 hektare. Fungsinya terbagi dua, yaitu dua hektare untuk lahan garapan dan 0,25 hektare untuk rumah.

Di Moro-Moro menjadi suatu kelaziman ketika seorang anak dianggap telah mampu bekerja, maka ia akan membantu orangtuanya bekerja, baik laki-laki maupun perempuan. Sang istri pun demikian, setelah selesai menyiapkan makanan dan merapikan rumah, ia akan menyusul suaminya.

Saat ini, wilayah Moro-Moro dihuni 3.359 jiwa berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010. Moro-Moro terdiri dari ima dusun, yaitu Asahan, Morodewe, Moroseneng, Morodadi, dan Sukamakmur. Jalananya hanya berupa tanah yang telah diratakan. Tatkala musim penghujan tiba, tanah di Moro-Moro berubah menjadi lempung, dan jika cuaca berganti panas debu jalanan berterbangan dimana-mana. Kondisi rumah di wilayah Moro-Moro juga nampak sederhana, hanya sebagian rumah yang berlantai semen, mayoritas rumah masih beralaskan tanah. Adapula yang perpaduan dari keduanya, lantai semen digunakan untuk kamar dan ruang depan, dapur maih beralas tanah. Lebar rumah, rata-rata delapan meter dan panjang sembilan meter, teriri dari satu ruang keluarga, dua kamar tidur, serta dapur. Diding rumah ada yang terbuat dari papan, geribik, atau gabungan dari keduanya. Atapnya bisa rumbai kelapa, asbes, atau genteng. Masyarakat saling membantu dalam proses pembangunan rumah, biasanya hanya membutuhkan waktu satu sampai dua hari.

Yang menjadi sorotan adalah kamar mandi, kamar mandi biasanya terpisah dengan rumah. Kamar mandi dibuat dkat dengan sumur gali, dibelakang rumah induk. Seperti halnya genset untuk penerangan, sumur gali ada yang milik perorangan, ada yang dipakai bersama. Kakusnya berukuran 1,5x1,5 meter, keempat sisinya berupa geribik ataupun terpal. Memiliki tinggi setengah manusia dewasa.  Tak semua warga memiliki kakus sendiri, sebagian membuang hajat di lahan garapan mereka sendiri, dengan membawa cangkul , mereka terlebih dahulu menyiapkan lubang, yang nanti akan diutup setelah mereka selesai membuang hajat.

Fasilitas sosial yang ada di Moro-Moro pun baru sebatas pada sarana pendidikan yang hanya sampai jenjang pendidikan tingkat menengah. Moro-Moro baru memiliki tiga sekolah dasar, satu sekolah menengah pertama, serta satu fasilitas pendidikan nonformal berupa sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) dan satu unit sekolah taman kanak-kanak. Semuanya dibangun dari inisiatif masyarakat. Meski pendapatannya mini, mreka rela menyisihkan sebagian hasil keringat mereka untuk masa depan anak-anak, meski kondisi sekolah-sekolah tersebut serupa dengan rumah-rumah masyarakat Moro-Moro.

Ketiadaan fasilitas kesehatan berimbas dengan tidak tersedianya tenaga kesehatan terlatih di wilayah Moro-Moro. Masyarakat Moro-Moro memang belum terbiasa hidup sehat. Ketika terkena penyakit mereka memilih untuk mengistirahatkan tubuh tanpa mengetahui jenis penyakit mereka. Hal itu karena mereka tak bisa langsung berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terlatih. Penyebabnya lagi-lagi karena jarak fasilitas kesehatan yang ada terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Saat kondisi penyakit mulai terasa parah barulah muncul inisiatif untuk memeriksakan diri ke  dokter atau bidan. Kondisi ini tentu bisa berakibat fatal bagi si penderita.
Tak hanya masalah itu saja, proses kelahiran biasanya dibantu oleh dukun beranak, ibu-ibu hamil pun tak pernah memeriksakan kandungan mereka ke dokter atupun bidan, jangankan memeriksa, mereka menyadari kehamilan mereka sekitar satu sampai dua bulan menggunakan test pack (alat pemeriksa kehamilan). Mereka bukan tidak mau memeriksakan diri, tetapi karena ketiadaan fasilitas kesehatan serta tenaga medis terlatih di sekitar tempat tinggalnya. Seorang ibu bernama Riyanti (22) mengaku telah mengubah kebiasaaan soal kesehatan. Riyanti mulai rutin  membawa bayi perempuannya ke posyandu setiap bulan. Meski jarak yang harus ia tempuh sejauh lima kilometer.

“Apakah benar Indonesia sudah merdeka?”
Ini adalah kalimat pembuka pada bagian bab tiga, berjudul asa yang menganga. Sekali lagi Ridwan mengingatkan pembaca bahwa Indonesia memang telah memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 lalu maka tidak salah jika rakyat Indonesia berhak mendapatkan kebebasan politik, pendidikan, kesehatan dan lainnya. Namun, pemerintah dengan sengaja enggan memenuhi hak masyarakat Moro-Moro dengan alasan wilayah yang mereka tempati adalah kawasan register yang tak boleh ditinggali.

Masyarakat Moro-Moro mayoritas bekerja sebagai petani memang menempati kawasan register. Pilihan ini ditempuh akibat lahan pertanian yang semakin minim. Sementara tanah merupakan kebutuhan utama seorang petani. Tanpa tanah, petani tidak dapat mendapatkan penghasilan.
Dalam menempati lahan register 45 pun, masyarakat Moro-Moro tidak merebutnya secara paksa. Mereka berinisiatif menggunakan lahan tersebut karena sang pemilik lahan tidak menggunakan seluruh lahannya. Petani Moro-Moro memanfaatkan lahan tidur yang menganggur tersebut. Akan tetapi pemerintah beranggapan lain, pemerintah bersikukuh melarang penggunaan lahan tersebut yang berakibat munculnya konflik agraria hingga kini.

Dalam bab ini, penulis menceritakan konflik agraria membuat masyaraka Moro-Moro berbeda dengan mayoritas rakyat Indonesia. Ia mengisahkan kepemilikan KTP yang tak di dapatkan masyarakat Moro-Moro. Pemerintah tak mau menerbitkan Kartu Tanda Penduduk untuk masyarakatnya. Akibatnya, masyarakat Moro-Moro tidak memiliki identitas yang jelas, dan hidup tanpa perlindungan pemerintah. Hal ini tentu saja memberatkan masyarakat Moro-Moro. Biaya kesehatan yang harus mereka keluarkan dua kali lipat lebih mahal karena tak memiliki KTP. Jaminan kesehatan pun mereka tak punya, Apalagi panduan untuk menjaga kesehatan mereka. Seperti yang dialami Wayan Suwardika (38).

“Dokter bilang karena tak punya KTP, saya belum bisa menjadi peserta Askeskin (asuransi kesehatan keluarga miskin. Padahal berobat memakai kartu Askeskin bisa lebih murah,” ungkap Wayan.

Mendapat perlakuan yang berbeda membuat masyarakat berinisiatif memenuhi  sendiri kebutuhan akan hak kesehatan mereka sambil terus menuntut hak kewarganegaraan kepada pemerintah.

Minggu itu, 6 Mei 2012, adalah minggu yang lain bagi masyarakat Moro-Moro. Suasana amat riuh, sekitar 250 ibu berkumpul di halaman sekertariat persatuan petani Moro-Moro Way Serdang (PPMWS). Kegembiraan ini merupakan rangkaian dari bab empat, melangkahi hari esok. Hari itu para ibu tersebut amat antusias hendak mengikuti kegitan posyandu yang secara perdana di gelar di Moro-Moro. Pelayanan di lakukan oleh satu relawan yang saat itu bekerja di Puskesmas Hadimulyo, dibantu 20 kader posyandu yang merupakan masyarakat Moro-Moro. Kegiatan lain sebagai rangkaian kegiatan Moro-Moro Sehat 2012 adalah penyuluhan pembangunan sehat. Kegiatan ini menekankan kepentingan keberadaan kakus dalam setiap rumah tangga. Penyuluhan pun diikuti praktik dengan pembuatan kakus yang memenuhi standar kesehatan. 

Pada bab lima, selesai namun belum usai, Ridwan menampilkan sosok Wuri Handayani (19). Pada bagian ini diceritakan Wuri berlaku berbeda dari remaja-remaja pada umumnya, yang lebih suka bermain dengan rekan-rekannya. Ia lebih antusias menjadi kader posyandu di wilayah Moro-Moro. Ia memilih berperan membantu kondisi kesehatan anak-anak Moro-Moro. Ia tergerak karena tak mampu membayangkan bagaimana jika anaknya sendiri yang terkena gizi buruk. Wuri bersama 19 kader posyandu lainnya berharap bisa memberi bantuan kepada masyarakat Moro-Moro. Meskipun, kegiatan posyandu baru bisa dilakukan satu kali di Moro-Moro karena ketiadaan tenaga kesehatan terlatih yang bisa memberikan pelayanan kesehatan.
Adanya konflik membuat kegiatan posyando menjadi terhambat, karena tenag kesehatan harus mendapatkan rekomendasi dari pemerintah jika ingin membatu kegiatan posyandu di Moro-Moro. Masyarakat terus berusaha mencari tenaga kesehatan yang mau membantu mereka, sehingga kegiatan posyandu dapat berjalan secara berkelanjutan.

Buku ini memang menarik, pengalaman-pengalaman tokoh yang bersentuhan langsung dengan masalah kesehatan digambarkan Ridwan dengan nyata dan haru. Buku ini mencerminkan kisah-kisah dari kehidupan sederhana yang terjadi pada masyarakat Moro-Moro melalui orang-orang yang bertutur.

Namun, bagi saya yang kurang dari karya ini adalah buku ini terlalu singkat untuk menceritakan segala permasalahan yang dialami oleh masyarakat Moro-Moro. Saya jadi berpikir mungkin ada  hal-hal menarik lainnya yang perlu diketahui masyarakat mengenai  upaya pemerintah dan PT Silva Inhutani untuk mengeluarkan masyarakat Moro-Moro dari kawasan Register 45. Selain itu, pada bagian bab dua yaitu selusur tanah  harapan di halaman 32, saya merasa dipaksa untuk berfikir cara-cara membuat rumah di Moro-Moro. Nyatanya, saya tetap kesusahan menguraikan arti dari kalimat-kalimat penjelasan cara membangun rumah yang biasa dilakukan masyarakat. Sebagai pembaca saya hanya menginginkan informasi gambaran bangunan rumahnya saja, bukan detail cara membangun rumah tersebut.

Terlepas dari itu semua, langkah Ridwan  untuk mengulas sisi lain kehidupan masyarakat Moro-Moro sangat tepat. Pembaca menjadi sadar bahwa masih banyak yang perlu diperhatikan sia ini, salah satunya yang menimpa masyarakat Moro-Moro. Ridwan dengan jelas menekankan bahwa ada yang belum sesuai dalam kehidupan masyarakat Moro-Moro, mereka belum mengecap rasa keadilan yang harusnya dimiliki oleh negara yang sudah merdeka.

Si Pemilik Rindu

Rindu. Apa yang tiba-tiba terlintas dalam pikiran kalian ketika melihat sebuah buku yang berjudul Rindu? Kisah romantis sepasang muda-mudikah? Tapi nyatanya bukan kisah itu yang ingin ditonjolkan oleh Tere Liye dalam buku ini. Si “Rindu” ini tak menawarkan kisah romantis dengan kalimat-kalimat puitis khas Tere Liye. Buku ini berbeda, kisah ini bermula di tahun 1938. Saat Belanda masih menduduki Indonesia. Dengan latar kota Makassar.

Si “Rindu” menceritakan sebuah pengalaman. Pengalaman menaiki sebuah kapal laut. Lebih tepatnya tentang sebuah pertanyaan; pernahkah kalian membayangkan rasanya pergi ke tanah suci menaiki kapal laut? Menempuh perjalanan selama berbulan- bulan di atasnya, dan keseharian selama itu pulalah yang menjadi alur cerita buku ini.

Jangan bayangkan kapal ini menyesakkan, dan tak layak huni. Kapal ini berbeda dari kapal besar lainnya yang biasa mengangkut komoditi dan serdadu Belanda. Kapal ini merupakan kapal khusus, hanya tiba setahun sekali khusus mengangkut jemaah haji. Panjangnya 136 meter, dengan lebar 16 meter. Bahkan saat itu di kota Makasaar, tak ada bangunan yang mampu menandingi menara uap kapal bernama Blitar Holland ini.

Selama perjalanan, Blitar Holland tak ubahnya daratan. Anak-anak masih bisa sekolah dan mengaji bersama. Kalian juga boleh sebut apa saja yang dibutuhkan di kapal ini? Kantin dan masjid? Tentu ada. Laundry, dokterdan tukang jahit pun tersedia. Kabin penumpangnya didesain amat nyaman seperti rumah. Pintu kabin terbuat dari kayu, ada ruang tamu, kamar, dapur dilengkapi sofa, lemari, dan kipas angin.

Kala itu, menaiki kapal uap kargo merupakan suatu kemewahan. Hanya orang-orang kaya yang bisa menaiknya. Salah satunya adalah Daeng Adipati salah satu rombongan calon penumpang. Bersama istri, dua anak, dan satu pembantunya ia terdaftar sebagai calon penumpang.

Di atas kapal ini kalian akan melihat, gadis kecil berusia sembilan tahun bernama Anna, bungsu dari Daeng Andipati yang akan membuat kisah ini menjadi lebih hidup. Dari awal ia sudah menarik perhatian, wajahnya yang menggemaskan, sifat ingin tahunya, sikap “ngeyelnya” yang tak jarang membuat Elsa, sang Kakak dan ibu mereka dibuat kesal.

Ada banyak tokoh menarik di buku ini, selain keluarga Daeng Andipati kita akan berkenalan dengan penumpang khusus bernama Gurruta Ahmad Karaeng. Ia menjadi penumpang yang amat diperhatikan oleh serdadu Belanda. Bukan karena ia begitu disegani sebagai ulama besar Makasar, melainkan karena aktivitas dakwahnya yang dicurigai menebarkan paham perlawanan kepada Belanda.Sampai-sampai ia harus memiliki izin khusus dari Gubernur Jenderal De Jonge dari Batavia agar bisa ikut rombongan ke tanah suci.

Selanjutnya adalah Kapten Philips. Sungguh amat menarik mengenal Kapten Philips, keturunan Belanda berpaham egaliter. Menganggap semua orang setara, entah orang Belanda ataupun Indonesia Kapten Philips menghargai mereka tanpa pengecualian. Bahkan terlalu seringnya ia berlayar ke timur dan bergaul dengan penduduk timur, maka kadang kala caranya berbasa-basi lebih timur dibanding orang timur.

Dan tibalah mengenal penumpang yang beruntung menaiki Blitar Holland. Pria berkulit hitam ini bernama Ambo Uleng. Seorang pelaut yang bahkan tak masuk kriteria layak bekerja di kapal ini. Namun sosoknya yang misterius membuat Kapten Philip bersimpati padanya. Jadilah ia petugas dapur selama perjalanan itu. Kelak kalian akan tahu ketika membaca buku ini kenapa pria ini layak disebut pemuda yang bercahaya seperti rembulan.

Dari Sejarah Hingga Romantisme‘Senja’

Cerita si “Rindu” ini sungguh amat sederhana, tentang kegiatan sehari-hari, sarapan, makan siang, makan malam di kantin, sekolah tiap pukul setengah sembilan, dan mengaji setelah ba’da ashar.  Begitu berulang setiap hari. Membosankan kah? Sama sekali tidak, cerita ini mengalir begitu nikmat dengan kalimat-kalimat Tere Liye yang begitu menentramkan.

Ada banyak pengetahuan baru datang dari buku setebal 544 halaman ini. Tere Liye tak pernah melupakan detail-detail penting setiap kota itu. Ia membuat pembaca tahu bahwa dulu sekali tahun 1923, Kota Surabaya pernah memiliki trem listrik pertamanya.

Di Semarang, Tere Liye membuka sejarah kantor pusatperusahaan kereta api Nederlandsch Indishe Spoorweg Maatschappij (NISM) yang kini dikenal dengan nama Lawang Sewu. Bangunan yang memiliki lebih banyak pintu dan jendela dibandingkan lima puluh rumah dijadikan satu.

Dan mengenai Pelabuhan Batavia, jelas tak bisa disepelekan. Ada banyak sejarah kompeni yang menarik di kota yang kini dikenal sebagai Jakarta. Pusat kotanya dahulu terletak di Oud Batavia, sekarang orang mengenalnya sebagai Kota Tua. Di sana berdiri kantor Gubernur Jenderal de Jonge, tepatnya di Museum Fatahillah, yang dibangun serupa dengan Istana Dam di Amsterdam.

Kota Batavia saat itu memiliki sistem transportasi yang maju. Jalur kereta api telah terhubung ke luar kota; Cicurug, Sukabumi,Cianjur, Bandung, Tasikmalaya, bahkan hingga Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Stasiun Paling besar adalah Stasiun Beos (kini Stasiun Kota). Sama seperti Surabaya, Batavia juga memiliki trem listrik yang termasuk paling awaldi seluruh dunia, dibandingkan Eropa sekalipun.

Kalian ingin tahu di mana pusat belanja terkenal di Batavia? Maka kunjungilah Glodok. Kawasan pecinan terbesar di nusantara. Semua barang yang tak ada di pasar lain, ada di sini. Kalian boleh sebut apa saja, dan barang itu ada di pasar ini. tak mau hanya di Glodok, pergilah mengunjungi pasar Senen dan Tanah Abang. Kedua pasar ini pun tak kalah lengkapnya dengan Glodok.

Nah, yang satu ini juga amat perlu diketahui, bahwa pada masa itu bahkan hingga sekarang  Batavia telah terbiasa terendam air, karena kali Ciliwung meluap. Kanalnya tak bekerja dengan baik. drainasenya juga buruk. Saat banjir besar tiba, orang-orang bisa berenang di kawasan Gunung Sahari, Pasar Senen. 

Yang ini apa kalian tahu? Bagaimana Aceh dikenal sebagai Serambi Mekah? Bagaimana Sri Lanka akhirnya dijajah Inggris? Kalian akan menemukan jawabannya di dalam “Rindu”.

Buku ini memang mengajarkan sejarah  kepada pembaca, tapi tak melulu soal sejarah,Tere Liye mengajak kita memahami kisah yang amat lumrah dalam perjalanan panjang ini bahkan terjadi hingga saat ini. Setiap musim haji akan selalu ada jemaah berusia lanjut. Semua orang ingin naik haji ketika fisik mereka kuat, masih muda, tapi perjalanan itu tak murah. Banyak orang yang harus menabung bertahun-tahun dan baru cukup saat usia mereka telah sepuh. Seperti juga pasangan suami istri mbah Kakung dan mbah Putri Slamet. Mereka baru bisa berangkat haji saat usia mereka telah senja, menginjak delapan puluh tahun. Bagian ini merupakan cerita yang paling romantis di dalam buku ini. Harus diakui pendengaran kakek Slamet memang tak bagus lagi, penglihatannya juga sudah rabun. Tapi ia masih ingat betul kapan pertama kali ia bertemu dengan istrinya, melamarnya, menikah, tanggal lahir anak-anak mereka, waktu-waktu terindah yang mereka lalui, ia ingat semua detailnya.

Si Pemilik Pertanyaan

Yang satu ini, bukan bumbu cerita. Bukan soal alur perjalanan  yang melewati Pesisir Barat Pulau Sumatera, singgah di kota islam tertua di nusantara, dan berlalu menuju Samudera Hindia. Melalui 51 bagian kisahnya, kita akan tiba pada bagian paling penting, menemukan serpihan-serpihan inti ceritanya. Tentang pertanyaan-pertanyaan dalam perjalanan hidup seseorang.

Layaknya sebuah perjalanan, pertanyaan-pertanyaan ini tak pernah memilih siapa tokohnya. Ia menyeruak begitu saja. Terus mencari jawaban tanpa diminta, meski dipendam berhari-hari bahkan bertahun-tahun lamanya. Dikapal Blitar Holland  saat perjalanan haji di mulai, saat dimana perjalanan membutuhkan waktu berbulan-bulan, penuhperjuangan, penuh air mata keharuan. Mengorbankan waktu, harta, bahkan dalam banyak kasus, juga nyawa, kita akan menyaksikan bagaimana pertanyaan-pertanyaan itu berusaha mencari penjelasannya. Sayangnya, lazimnya sebuah pertanyaan, tidak semuanya memiliki jawaban. Terkadang, tidak ada jawaban, juga penjelasannya.

Pertanyaan pertama muncul dari seorang penumpang perempuan berusia empat puluh tahun, seorang guru mengaji anak-anak. Tentang masa lalu yang memilukan. Enlai menceritakan masa lalu istrinya sambil menahan rasa sakitdi hatinya. Ling-Ling, itulah nama yang diberikan saat istrinya dilahirkan. Enlai mengenal istrinya sejak usia mereka masih lima-enam tahun. Ayah Ling-Ling adalah penjudi kambuhan. Sementara saat itu, ibunya jatuh sakit. Hanya bisa terbaring di tempat tidur berbulan-bulan. Toko kelontong yang mereka punya pun harusdijual demi pengobatan sang ibu. Tapi sang ayah justru kambuh tabiat berjudinya.

Puncaknya, hari itu, Ling-Ling dibawa kabur. Enlai hanya bisa berdiri di depan rumah, menatap Ling-Ling yang diseret, dipukul, dibentak, dan disuruh diam. Ia dibawa lari menjauhi daerah pecinan Manado, tempat mereka tinggal. Sejak itu, Enlai tak tahu lagi kabar Ling-Ling. Kemana ia di bawa?

Pertanyaan kedua datang tak disangka-sangka dari seorang penumpangyang dianggap paling bahagia di kampung terapung itu. Apa yang membuatnya bertanya-tanya tentang kehidupan? Sementara ia memiliki keluarga yang lengkap, kehidupan yang berkucukupan, juga nama terpandang  di kota Makassar. Nyatanya  hatinya tetap tak bisa berbohong, ia tak bisa meluluhkan rasa benci yang telah tumbuh sejak usianya lima belas tahun. Selalu menyakitkan saat kita membenci sesuatu, apalagi jika itu ternyata membenciorang yang seharusnya kita sayangi.

Pertanyaan ketiga tentang kehilangan kisah sejati. Sebenarnya sejak si penannya menikah, hidupnya tak memiliki pertanyaan. Ia sudah memiliki semua jawaban, menghabiskan hari dengan pasti, bersyukur atas setiap takdir yang ia terima. Tapi, beberapa hari berlalu ia tak bisa mencegahnya. Pertanyaan kanapa? itu tiba-tiba muncul di kepalanya, memintapenjelasan.

Pertanyaan keempat masih tentang cinta, tentang cinta sejati yang terlanjur merekah di hati seorang pemuda yang memutuskan lari dari seluruh kisah cintanya. Padahal ia telah mengenal gadis itu di hari yang sama ketika bapaknya meninggal di laut.  Ia menyelamatkan gadis itu ketika kapal yang mereka naiki tenggelam tergerus badai. Saat usianya menginjak sembilan tahun. Enam hari mereka terkatung-katung di sebuah pulau, hingga perahu nelayan membawa mereka ke Pare-Pare.

Lagi-lagi takdir mempertemukan mereka, saat usia lelaki itu dua puluh tahun. Ia bekerja di kapal phinisi milik ayah si gadis. Hanya butuhwaktu lima detik sang gadis langsung mengenalinya. Malu-malu bertanya, memastikan. Empat tahun bekerja , hingga ia diangkat menjadi juru mudi. Saatitulah perasaan itu tumbuh. Meski mereka tak pernah bicara sepatah kata pun,juga tak berani saling tatap, perasaan itu tak bisa di pendam lagi. Sang gadis mengirimkan sepucuk surat kepadanya. Dia bercerita, orangtuanya sedang membicarakan perjodohan dengan seseorang dari kota Makassar. Seorang kerabat jauh dari kakeknya di Gowa. Ini adalah perjodohan yang diatur sejak lama. Tidak bisa dihindari. Gadis itu bertanya di akhir suratnya, “Apa yang harus dilakukan, Abangda?” Namun apa yang pria itu lakukan saat ini? Ia berlari sejauh mungkin dari kota kelahiran mereka, lari dari kisah cintanya.

Dan pertanyaan terakhir keluar dari orang yang pandai menjawab begitu banyak pertanyaan, tapi kali ini ia bahkan tidak berani menjawab pertanyaannya sendiri. Selama ini ia selalu menghindar, meyakini bahwa ada jalan keluar yang lebih baik tanpa harus kehilangan orang-orang yang disayangi. Tetapi malam itu, saat perompak Somalia mengambil alih kapal uap yang mereka naiki. Ia mendapat penjelasan dari seseorang yang pernah bertanya akan sebuah jawaban pada dirinya.

Dan Blitar Holland menjadi saksi atas pertanyaan besar yangtiba-tiba meluap. Menjadi tempat dimana lima pertanyaan itu mencari penjelasannya masing-masing. Lima kisah ini terangkum dalam sebuah perjalanan panjang bernama kerinduan. Besok lusa, kalian akan tahu setelah kampung terapung yang dijuluki Blitar Holland membawa mereka kembali ke tanah air. Bagaimana si pemilikpertanyaan melengkapi kerinduan itu, tepat satu tahun sebelum perang dunia kedua meletus. September 1939 hingga 1945.