Minggu, 17 Januari 2016

Bolehkan Saya Takut?


Kamis, 14 Januari 2016 adalah peristiwa bersejarah bagi Indonesia. Pagi itu, ledakan pertama terdengar sekitar pukul sepuluh dari kawasan Thamrin-Sarinah Jakarta Pusat. Disusul ledakan lainnya dan baku tembak antara polisi dan serombongan orang yang dikatakan teroris berlabel ISIS. Setelah itu media sosial diramaikan oleh hastag #IndonesiaBerani #KamiTidakTakut, bahkan drama polisi ganteng dan meme lucu tak luput dari perhatian netizen.

Tentu saja saya bangga menanggapi gairah masyarakat untuk bangkit dan melupakan kesedihan. Tapi tiba-tiba saya terenyuh membaca sebuah postingan sang senior yang mengatakan bahwa dia takut. Apa? Sementara orang-orang mengatakan berani dan tidak takut kok beliau malah merasa takut? Saya melanjutkan membaca postingannya.

Maka setelah itu, saya akan mengatakan bahwa saya setuju untuk takut. Bahwa rasa takut adalah wajar, dan ini akan menjadi kabar baik ketika kita bisa membaca sebuah ketakutan untuk peka pada masalah yang terjadi, syukur-syukur bisa mencari solusi. Bukan sekedar berusaha melupakan, seolah-olah Indonesia baik-baik saja. Negara kita tidak menjadi baik-baik saja ketika kita tidak bisa peka dan mengerti ada banyak hal yang perlu kita tahu dari rasa takut itu.

Saya memang takut! Takut menjadi Si Oportunis karena nyatanya rasa kepekaan saya juga mulai melemah seiring dengan kenyamanan majunya teknologi hingga individualisme begitu terasa kencang menempel, menjadi malas memikirkan hal-hal di sekitar yang dirasa tak punya nilai signifikansi dalam hidup ini.  Lalu, bolehkah saya merasa takut?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar